Berbeda

Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya di Jakarta; gemerlap kilau lampu yang saling menyala, menerangi kegelapan malam.tetap saja tak membuat Jakarta semakin sepi. Hingar-bingar kendaraan yng lalu lalang dipadukan dengan hiruk-pikuk kesibukan orang-orang beraktifitas yang membuat Jakarta semakin padat kegiatan. meskipun waktu sudah menujukkan 21.30 wib, tak lantas membuat kota itu sunyi senyap. Di sudut kota itu terdapat seseorang yang sejak siang terlihat sibuk dan bingung memikirkan bagaimna cara pulang kerumah. Hani adalah anak rantau yang sedang belajar hidup jauh dari orang tua diperantauan. Hal ini menjadi sesuatu yang baru baginya sehingga orang tua Hani menitipkannya pada sanak saudara mereka disana. Hani yang sehari-hari bekerja di Jakarta sanggup menemuh perjalanan yang jaraknya tak terlalu jauh namun terasa lama sebab rutinitas kemacetan yang sudah lazim di Ibukota. Hal ini disebabkan hani yang tinggal di Tangerang tepatnya tempat dimana orangtua hani menitipkannya pada pamannya.

Malam yang terasa berbeda bagi hani karena ketidak berdayaannya untuk membagi kesulitannya pada orang-orang terdekatnya termasuk teman sekantornya atau siapapun meraka yang sebenarnya hani sendiri tak mengetahui apakah mereka akan benar-benar menolong atau malah mencibir. Diam itu yang satu-satunya dapat dia lakukan dimalam itu mencoba berfikir jernih bahwa badai pasti berlalu, “lalu bagaimana caraku untuk pulang ke Tangerang malam ini,  padahal seribu rupiah pun aku tak punya” serunya dalam hati serta mencoba menenangkan dirinya sendiri. Bukan tanpa usaha namun apa mau dikata sejak siang semua orang yang hani kenal sudah dihubungi olehnya tapi tak satupun dapat membantunya. Sungguh Hani sangat enggan selalu merepotkan pamannya selama ini sudah membantunya saat pertama kali hani tiba di Jakarta. Apa daya hani sendiri tak memiliki keberaniaan untuk mengatakan yang sejujurnya pada keluarga pamannya. Meskipun dia sendiri tahu bahwa pamannya yang cukup mapan dari segi finansial akan menyanggupi untuk menolongnya apalagi hanya sekedar memiinjamkan ongkos untuk dirinya. “ah sudahlah tak perlu kutambah permasalahan pamanku dengan mengatakan bahwa aku kehabisan uang dan tak bisa pulang malam ini”, ucapnya dalam hati. Hani sesekali melihat jalan berhadap ada keajaiban yang terjadi untuknya malam itu.

“halo hani sadar!!! ini bukan sinetron atau film yang sering kamu tonton dilayar kaca seketika kesulitan lenyap begitu saja. Jelas masalah disana cepat terselesaikan dengan begitu mudahnya lah kan sutradaranya yang atur alurnya.” Gumannya dalam hati. Sementara hati dan fikikiran hani saling berseteru, akhirnya hani memutuskan untuk menginap saja dikantor. Tetapi hani masih saja bingung bagaimana dia harus menginap dikantor sementara itu masih ada beberapa office boy yang sedang berjaga belum juga pulang, akhirnya waktu menunjukkan pukul 23.00 wib dan dia putuskan untuk menunggu sementara waktu diluar gedung kantornya. Dia mulai menekan tombol dilift tak lama berselang lift terbuka didalam lift yang hanya seorang diri, dia tetap berfikir bagaimana caranya agar dapat pulang dan litf pun sudah membuka pintunya pertanda harus keluar.

menelusuri lorong menuju main lobby gedung tersebut sepanjang pemandangan yang terlihat hanya ada sedikit karyawan yang lembur, office boy yang piket dan satpam yang bertugas pada malam itu. Di depan gedung hani hanya duduk-duduk saja disalah satu anak tangga karena tak tahu harus berbuat apa lagi. Malam yang semakin larut tetapi hani belum juga menemukan penyelesaian dari masalahnya tersebut. Hani pun memutuskan untuk kembali lagi ke dalam gedung dan berfikir akan menunggu pagi tiba di dalam kantor saja.

Terburu-buru hani kembali kedalam sampai satpam menegur dan dijawab sekenanya. Suasana gedung yang gelap karena setiap kantor sudah memadamkan lampunya, rasa takut itu seperti sirna begitu saja dari dalam diri hani. Karena cerita-cerita mistis yang sering didengarnya dari teman-teman sekantornya yang pulang larut ketika sedang lembur. Entah kenapa hani tiba-tiba menjadi sangat berani seorang diri di lantai 19 dengan keadan yang sudah gelap-gulita. Pantry dan toilet menjadi pilihannya untuk sekedar beristirahat sampai menjelang pagi, karena hanya kedua tempat itu yang tak dikunci dari luar oleh pihak kantor. Diluar dugaan ternyata kedua satpam yang melihatnya kembali kedalam gedung menyusulnya hingga kelantai 19. Kaget bukan kepalang Hani dibuatnya karena tak menyangka bahwa mereka, ternyata menuggu dirinya belum juga keluar sejak kembali masuk karena jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wib. Tak pernah terfikir oleh hani bahwa kehadirannya kembali keluar gedung dinantikan oleh kedua satpam itu.

( bersambung )

 

#30dwcjilid5#day6#squad2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.