BERBEDA (Part 2)

Hani hanya seorang diri didalam pantry yang gelap tanpa penerangan hanya bermodalkan senter yang ada diperangkat ponsel miliknya. Entah apa yang ada dipikiran Hani saat itu bingung harus berbuat apa. Seketika lamunan Hani buyar ketika dia mendengar langkah kakik yang begitu jelas dari arah tangga. Tersadar olehnya bahwa tadi saat kembali kedalam ke gedung hani berpamitan kepada satpam unntuk sebentar saja. Ternyata satpam itu melakukan jaga pergiliran malam untuk memeriksa setiap lantai bermasalah atau tidak. Untung saja Hani sudah tidak lagi berada di pantry namun ia sudah duduk masih didudukan closet didalam toilet. Suara langkah satpam itu semakin nyata dan mulai mendekat ke kamar mandi dimana Hani berada, sebenarnya Hani agak ragu-ragu harus menjawab apa tak lama kemudian terdengar suara dari luar toilet.

“apa ada orang didalam?”,

Terdiam selama 5 menit dengan keadaan yang tak karuan diatas closet “aku harus jawab apa”ucap Hani dalam hati tanpa sadar badannya mulai bergemetar.

Suara itu terdengar kembali untuk kedua kalinya, “apa ada orang didalam?”.

“iya ada apa pak” Sahutnya dari balik pintu toilet, “siapa ya pak  diluar?”Tanya Hani lagi penuh rasa ingin tahu.

“ini mba saya satpam yang biasa jaga malam hari ini, itu temen saya lagi didepan.”

“soalnya dari tadi mba kan pamitnya mau balik sebentar ke dalam tapi gak keluar2 sampai sekarang, saya fikir mbanya pingsan.”sambung satpam itu.

“Iya pak saya tadi mau keluar tapi ini tiba-tiba mau ke toilet, biasa pak panggilan alam.”jawabnya dengan raut wajah yang kebingungan dan pikirannya tak menentu entah harus bagaimana.Menyalakan air agar menyakinkan satpam yang berada diluar toilet.

“mba takut ya, makanya gak turun-turun,” jawab satpam mempertegas pernyataan yang terlontar dari lidahku.

“tidak pak sungguh!” jawab Hani lantang dan tegas berusaha untuk menyakinkan pak satpam agar tak lempar pertanyaan yang bertubi-tubi.

pak please jangan tanya lagi sebab bapak hanya akan membuat saya sedih saja.” Jawabnya dalam hati kali ini raut muka Hani sungguh sangat kacau balau.

apa pak satpam gak bisa cukup diam dan mengerti keadaan saya pak?”sibuk bicara sendiri dengan suara yang bahkan tak dapat didengar oleh kedua satpam itu.

“mba masih lama?”

“mba kalo takut bilang aja nanti kami antar sampai depan lobby.”sahut satpam nada suara lantang dan tegas untuk menyakinkan Hani.

ok tenang Hani, kamu pasti bisa menghadapi keadaan ini toh percuma saja mengeluh bukan? Tenang dan Berfikir dengan kepala dingin.”Ucap Hani dalam hatinya.

Hani belum juga menjawab pertanyaan kedua satpam tadi.

1 menit (hening)

2 menit

3 menit

4 menit

5 menit kemudiann akhirnya hanya menjawab juga.

“iya pak ini juga sudah selesai.” Sambil menekan air pada closet itu beberapa kali agar satpam itu tidak mencurigai dia.

Hani pun membuka pintu toilet dan dia akhirnya diantar kedua satpam itu keluar gedung. Mereka bertiga berjalan dikegelapan ruangan yang hanya bermodalkan lampu senter sebagai cahayanya. Kedua satpam itu bertanya banyak sekali pada Hani tetapi ia tak sepenuhnya mendengarkan mereka. Hani melihat mereka berdua berbicara seperti radio yang sedang siaran, sesekali ia hanya tersenyum kepada satpam-satpam itu karena sungguh Hani tidak mencerna jelas pertanyaan yang diajukan oleh keduanya.Diotaknya, Hani bertanya-tanya harus pada dirinya sendiri, dimanakah seharusnya ia melakahkan kaki hingga fajar menyapa.

Tanpa disadari ternyata Hani sudah didepan gedung dan ia melihat jam baru menunjukkan pukul 01.30 wib. Ia lempar pandangannya dijalan pertokol sepanjang Jalan Sudirman hanya kendaraan pribadi dan dan beberapa taksi yang lalu lalang. Dini hari seperti ini hanya ada tukang bangunan yang sibuk bekerja untuk mempercantik ibukota.

Menundukkan wajahnya dengan lesu dan perlahan menarik nafas lalu berkata, “harus kemana aku sekarang sedangkan subuh masih beberapa jam lagi. Ya Allah bagaimana ini? Haruskah berdiam diri saja tapi tak mungkin Ya Allah. Sungguh aku benar-benar bingung.”

Tak lama berselang terfikir olehnya untuk menunggu saja disalah satu minimart 24 jam yang ada didekat kantornya.hal itu menjadi satu-satunya pilihan ia mau tidak mau tetap saja harus dijalani. Langkah kakinya sungguh berat dipaksakan tetap melangkah. Sepanjang langkah kakinya itu tidak ada seorang perempuan pun dijalanan yang ia lalui. Semua yang ia temui semuanya laki-laki entah itu buruh bangunan, beberapa tukang ojeg, pedagang kaki lima atau bahkan anak-anak abg yang masih sibuk nongkrong.

Akhirnya Hani sampai juga ditempat yang ia tuju, ia hanya terdiam dan termangu melihat orang-orang yang ada disekitarnya yang benar-benar tidak ada yang ia kenal. Hani pun menuju salah satu sudut di minimart tersebut. Satu-satunya tempat yang kosong, ia pun duduk disana sekedar melepas lelah. Malam yang sudah sangat larut tak dapat dipungkiri lagi rasa kantuk dalam diri Hani mulai menyapa. Lelah dan kantuk adalah paket lengkap yang Hani punya saat itu seperti pertunjukkan yang sempurna.

“Ya Allah tolong selamatkan hamba-Mu ini dari orang-orang yang ingin berbuat jahat padaku. Aku ini sungguh hamba yang lemah ya Allah ditambah lagi dengan rasa kantukku yang sudah tidak tertahankan lagi. Berat sekali menjaga mata ini agar tetap terjaga.” Doa penuh harap yang dipanjatkan Hani pada Yang Maha Kuasa dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia punya malam itu semampunya sampai pagi itu datang.

Suasana Jakarta mala m yang mencekam itu sudah tak terlalu diambil pusing oleh Hani sudah sedari tadi matanya tertutup dan terbuka antara sadar dan tidak , namun harus tetap awas karena tak mungkin tertidur lelap.

1 jam, 2 jam, 3 jam dan sudah 4 jam berlalu  ras kantuk yang dimiliki oleh Hani tak dapat berkompromi lagi, padahal tingga  60 menit saja. Mau seperti apa lagi keadaan Hani sudah sangat tak karuan. Akhirnya adzan subuh terdengar juga oleh Hani dan ia bergegas pergi mencari masjid atau mushola terdekat. FYI, tempat ibadah yang ada ditempat ia berkerja jika malam terkunci jadi tak dapat untuk disinggahi untuk  bermalam. Seusai melaksanakan solat subuh Hani mendapat secercah tenaga untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor. Senyum merekah terpancar dari wajahnya, lalu bergegas untuk segera tiba dimeja kerjanya.

Segera mungkin Hani bergegas dan tak membuang waktu lagi. Tapi tanpa disangka ia bertemu kembali dengan satpam yang berjaga semalam. Ia pun hanya tersenyum dan berlalu menuju meja kerjanya. Sesampainya dimeja kerjanya ia bergegas untuk tidur dan melepas lelah setalah berjaga semalaman.

#30dwcjilid5#day7#squad2#latepost

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.