Hijrah Outside and Inside

PART 1

“ kaka, itu jilbab lebar banget.”

“ya udahlah ya, kalo beragama yang  wajar – wajar aja gak usah berlebihan.”

“biasa aja kali itu pakaian nya gak usah serba besar kayak gitu, yang penting kan pake jilbab dan tertutup cukup!”

“Neraka atau Surga mah urusan masing-masing gak usah repot pake ngingetin segala, BERISIK tau gak!”

“Tau kok, tau banget kalo misalnya gak menutup aurat secara sempurna itu orang tua juga bakalan dapet dosanya. Tapi kan itu teori doang, konkritnya dong seperti apa?”

“Kenapa rada aneh gitu ya kalo liat orang jilbaban gede apalagi sampai pake cadar, pasti dah gua liatinnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.”

“gak usah pencitraan deh jilbab aja yang lebar tapi kelakuan minus banget. Jilbab hati aja dulu baru jilbaban fisiknya.”

“Mba ikut islam aliran apa sih, mba? kok cara berpakaiannya tertutup gitu gak kekikinian banget.”

Percakapan – percakapan diatas sudah umum didengar oleh khalayak ramai, atau jangan – jangan salah satu pelakunya diri kita sendiri (hayo ngaku aja, peace). Dialog – dialog itu hanya segelintir saja, kadang kala membuat langkah menjadi melemah untuk tetap tegar menghadapi episode demi episode kehidupan. Sebagai salah satu pelaku hijrah ini pemula bukan expert benturan yang dihadapi dilapangan seharusnya disambut denga suka cita. Bagaimana tidak, coba ditelisik kembali ayat yang Allah turunkan dan termaktub dalam Al-Qur’an “Tidak dikatakan seseorang beriman diantara hamba – hambaku sampai Aku benar- benar mengujinya.” Setiap dera yang menimpa itu adalah kemulian yang akan didapat, tetapi dengan syarat dan  ketentuan berlaku.

Penempaan diri seorang hamba dengan iman yang berkualitas tinggi tidak dapat dinilai bagaimana penampilannya belaka. Sedikit peningkatan keimanan yang akan ditempuh akan melalui jalan yang berliku nan panjang. Lelah akan terasa namun bukan berarti menyerah. Jihad terus berkumandang sampai akhir hayat menjelang. Pada dasarnya hijrah itu mudah tetapi istiqamah untuk tetap taat pada perintah Allah swt. Cukup menyita tenaga, waktu dan pikiran. Jangan mudah menyerah dalam berhijrah (ini mah lagi nyemangatin diri sendiri) apapun yang terjadi bukan untuk dihindari. Kadang kala berbenturan dengan kenyataan yang kita hadapi dimasyarakat. Banyaknya ketidak cocokan lumrah terjadi bagi pemula hijrah, bagaimana tidak karena sifat manusia sebagai makhluk sosial tak bisa terlepas dari muamalat antara manusia lainnya.

#30dayswritingchallenge #day11 #squad1 #tobecontinue

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.