Hijrah Outside and Inside

(Part 3)

Awalnya mulai menyisihkan sebagain uang agar bisa beli baju yang memenuhi standard Islam seperti mulai beli jilbab – jilbab yang menutup dada, pilih – pilih baju zaman masih jahiliyah yang masih bisa dipadu padankan antara longdress, rok dan baju yang lainnya. Pertanyaan – pertanyaan kadang masih berkecamuk dalam hati misalnya, “Aneh gak  ya ini penampilan kalo bener – bener udah berupah gini?” berbisik sambil bolak – balik berkaca dan itu rupa muka udah gak karuan model apaan.

“ Bismillahirrohmanirrohiim, InsyaAllah Allah selalu bersama hambaNya.” Sambil mengeluarkan semua isi baju yang ada dalam lemari, lalu dimasukin kedalam kardus. Pasti pada bingung itu pakaian dan jilbabnya mau dibawa kemana (macam lagu pop saja). Kesadaran baru muncul setelah hampir 6 bulan lebih kerja, modal nekat aja itu baju disumbangin biar gak dipake. Dilema wanita tuh kalo udah ngerasa baju yang dimiliki lucu, imut – imut, warna gemes pasti sayang banget kalo harus direlain buat orang lain. Jangan mau kalah sama keinginan yang bersifat semu segala sesuatu yang sifatnya sia – sia dan tidak berfaedah sama sekali harus ditinggalkan.

Tahapan awal ini aja berasa udah mulai berat, karena dulu ya sempet nyinyir sama aktivis dakwah yang ada di kampus. “ Ya udahlah cukup jilbab mah gini aja yang pentingkan tertutup.” Astagfirullah banget itu kata – kata karena dulu belum paham dan sekarang setelah tau banyak – banyak istigfar. Hina dina banget dulu zaman jadi mahasiswa suka menganggap remeh kebaikan – kebaikan yang mereka sering sebarkan. Padahal apa yang mereka lakukan itu memang seharusnya seperti itu. Penting untuk mengetahui ilmu secarah menyeluruh dari langsung dari sumbernya bukan sekedar Katanya – katanya saja. Dasar pemikiran udah jahiliyah banget padahal belum terlalu mengerti dasar kemurniannya seperti apa, sudah mengklaim bahwa itu salah. Merasa benar adalah penyakit yang susah diobati sekali jika sudah menjangkit. Sekedar bicara tanpa memiliki pengetahuan yang cukup juga sangat berbahaya. Masa lalu memang tak pernah bisa berubah, tetapi kepahitan yang dirasa akan menjadi pembelajaran yang berarti untuk menunjang kehidupan masa depan. Apapun keberhasilan yang pernah diraih jangan dijadikan sebuah kesombongan untuk berbangga dihapadan khalayak ramai.

MALU mungkin itu kata yang dapat terlontar ketika mengenang banyak kejadian dimasa lalu. Sesal menyapa, “Mengapa tidak sedari dahulu saja bisa mengenal islam secara utuh, dan tak terlambat seperti sekarang ini baru mulai menerapkan sedikit demi sedikit ajaran agama yang dipelajari.”

“Ya, Allah sungguh terlambat sekali saya menyadari bahwasannya agama islam yang menjadi agama terakhir yang dan sudah Engkau sempurnakan.”

“Sudah bertahub-tahun hidup di bumi ini ya Rabb tapi baru sedikit sekali rasa syukur yang kumiliki. Selama ini hanya sekedar bersyukur melalui kata belaka, baru ku sadari bahwa itu saja tidak cukup untuk sekedar dikatakan beriman perlu tahap selanjutnya agar konsisten tercipta.”

#30dayswritingchallenge #day13 #squad1 #tobecontinue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.