Hijrah Outside and Inside

(Part 4)

Hijrah itu mudah yang sulit tetap menjaga keutuhan iman dan istiqomah dalam mejalankannya. Hijrah juga akan dibarengi dengan jumlah bala tentara jin yang banyak. Pada dasarnya mereka tak ingin kehilangan walaupun hanya satu orang teman saja untuk menemani mereka kelak dineraka (serem banget ya ini bawa-bawa neraka segala). Dulu pernah nyangka bahwa hijrah gak sesulit yang terpikirkan tapi ternyata sulit sekali, bukan untuk menyerah namun lelah kadang  menerpa. Ternyata setiap seorang muallaf perlu dibantu bukan dari segi dukungan saja namun juga secara ekonomi. Masuk dalam salah satu daftar mustahiq. Sesungguhnya hijrah itu saja sudah banyak kehilangan teman dan apapun yang kita cintai namun bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist. Maka kesemua itu harus ditinggalkan.

Muallaf juga salah satu bentuk hijrah yang lumayan menyita banyak perhatian tenaga emosi dan segalanya. Ramai ditemui para muallaf itu tersisih dari keluarga besar meraka menjadi minoritas dan kadang keberadaannya tak lagi diharapkan. Kembali lagi pada masalah apa saja yang sering sekali dialami dimasa – masa awal hijrah dimulai, lalu bagaimana menghadapi segala badai yang datang. Disuatu siang dikantor ada temen sekantor yang sebut saja namanya Pak Harjo bertanya, “ Put, bentar dah gua mau nanya, itu lu pake jilbab gede begitu terus baju lu nyeret – nyeret lantai gitu emangnya sah kalo dipake solat?” dengan nada betawinya yang khas.

“ InsyaAllah pak kalo masalah kotoran yang menempel dibaju ini akan dibersihkan dengan tanah atau debu setelahnya. Maaf ya pak saya lupa tepatnya hadisnya itu periwayatnya siapa tapi insyaAllah shohih, wallahu’alam.” Jawabku singkat.

“Put gua belum selesai nanyanye, ada lagi lu itu sebenernya ikut islam aliran apa put?” lanjut Pak Harjo.

“ Maksudnya aliran gimana ya pak?” balik bertanya untuk memperjelas.

“Iya kayak orang – orang gitu, kan kalo gua ikutnya aliran islam alsunah wal jama’ah. Elu aliran islamnya apa? Misalnya apa Muhammadiyah, NU atau yang lainnya?” sahutnya dengan nada yang mulai naik satu oktaf.

“ Oh seperti itu pak, Jadi gini ya pak islam itu ya islam pak sedikit direvisi aja kalo Muhammadiyah atau NU itu sebuah organisasi yang berlandaskan dari Islam dan berbasis agamis. Dasar – dasar keputusan yang diambil oleh petinggi – petingginya rujukannya dari Al-Qur’an, Hadist dan mazhab empat imam yang masyhur dan keputusan alim ulama yang memupuni dibidangnya.   Jangan sampai pak karena kita terlalu mencintai organisasi yang kita ikuti membuat kita berani melanggar aturan yang sudah Allah tetapkan. Ibaratnya pak seperti negara Indonesia ini walaupun banyak suku yang ada tetap saja kita Indonesia.” Sambungku.

“ Ooooooohhh.” Sambil manggut – manggut.

“ Masih ada lagi pak yang ingin ditanyakan?” Tanyaku kepadanya.

“ Udah sih itu aja dulu, nanti dipikirin dulu nanti kalo ada pertanyaan yang timbul gua tanya lagi dah ke lu.”

“ Iya pak siap jika saya tahu insyaAllah dijawab , jika belum ya skip aja dulu dijelaskan kemudian.”

Kamipun selesai percakapan singkat disela – sela istirahat makan siang dan kembali beraktivitas kerja kembali.

#30dayswritingchallenge #day14 #squad1 #tobecontinue

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.