Hijrah Outside and Inside

(Part 6)

Jadilah malam selama didalam lift saya termasuk yang sering jadi guyonan mereka. Tepat di main lobby kami pun saling say good bye karena arah pulang yang berbeda – beda. Sepi, kata yang dapat menggambarkan keadaannya. Sesekali menoleh kebelakang karena saya jalan ke stasiunnya sendirian, hal ini diakibatkan banyaknya perusahaan yang hanya bekerja setengah hari saja. Jalanan yang biasa ramai dan padat merayap seolah seperti suasana jalan tengah malam sunyi senyap.

Beberapa hari mulai berselang aktivitas berjalan seperti biasanya, walau terkadang berita mengenai Bom Sarinah masih sesekali dibicarakan.  Selalu dan selalu aku yang menjadi bulan – bulanan mereka, karena dikantor akulah satu – satunya karyawan yang jilbabnya sedikit memakan bahan yang lebih lebar. Setiap bicara teroris selalu saya namaku dikait – kaitkan padahal kenal saja tidak dengan keluarganya yng ngebom. Mereka yang membicarakan orang – orang sepertiku (pemula hijrah) selalu saja dihubung – hubungkan. Penilaian yang terlalu terburu  – buru terhadap diriku ini kadang kala membuat kesalah pahaman tentang keutuhan agama islam yang seharusnya.

Berhijrah memberikan banyak pembelajaran serta pengalaman hidup yang berarti.  Tak henti – hentinya selalu bersyukur pada Allah masih diberi hidayah dan digerakkan hatiku untuk berhijrah. Bertemu banyak hal yang sering menjadi pertanyaan satu demi satu terjawab oleh waktu. Jika ditelisik dari ilmu yang dimiliki masih fakir (tahap penambahan ilmu yang sedang dalam proses). Karena hidayah tidak biasa hanya diam dan termangu dan akhirnya datang dengan sendirinya. Adanya respon pro-aktif agar hidayah itu dapat terealisasi secara signifikan. Salah satu langkah awal yang diambil adalah dengan mengubah tampilan luar (outside) diikuti dengan terus memperkokoh tampilan didalam (inside).

Sekedar merubah penampilan luar saja itu belum cukup namun bagi para pemula masih diperlukan dukungan yang kuat agar istiqomah dengan pakaian seperti yang Allah swt wajibkan. Berjilbab (berpakaian) syar’i saja sudah banyak yang menggoda agar berjilbab yang modis saja. Ingat, setiap ingin naik tingkatan pasti ada ujian (sudah seperti anak sekolahan saja). Memulai langkah hijrah di tengah keramaian Jakarta dengan segala aneka ragam adat budaya. Tinggal di Ibukota yang katanya mayoritas umat islam terbanyak. Pada kenyataannya di lapangan umat islam yang mengamalkan islam secara kaffah masih menjadi kaum minoritas.  Bukanlah perkara mudah, jika tak sanggup dan kuasa lagi menerima sama halnya dengan tak mensyukuri segala nikmat yang Allah curahkan kepada seluruh hambanya.

Label yang masyarakat lekatkan kepadaku yang berpakaian yang tak sama dengan mereka, sejujurnya membuatku sedih. Bagaimana tidak segala tindak tanduk yang kulakukan selalu dianggap sudah benar dan sesuai syariat islam. Hal yang paling parah adalah ketika kesalahan tak sengaja diperbuat bukan menasehati secara santun, namun sibuk menyalahkan Jilbab lebarku. “ Udahlah ganti aja itu jilbab atau gak usah jilbaban kayak gitu segala kalo masih suka berbaut dosa  mah.”  Namanya juga hati manusia mudah untuk dibolak – balikan. Rasa kesal memang timbul pada awal – awal masa hijrah dimulai. Pada kala itu ilmu yang saya miliki masih sangat minim (sampai sekarangpun masih sedikit, jadi masih terus belajar tentang agama islam). Perjuangan belum selesai, semakin kita (baca: saya) tingkat godaan semakin meningkat pula. Jika para syetan tak bisa mencegah untuk menutup aurat, bukan berarti mereka menyerah. Akan tetapi mencari strategi baru untuk bisa menggoda manusia.

#30dayswritingchallenge #day16 #squad1 #tobecontinue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.