Hirah Outside and Inside

(Part 5)

Beberapa hari berlalu rutinitasku berjalan seperti biasanya. Berangkat ke kantor, kerja, lembur lalu pulang. Bertemu macet itu sudah biasa di ibukota yang luar biasa kalo jalan lancar bebas hambatan. Pada akhirnya terjadi kejadian sampai saat ini masih diingat sebagian masyarakat.

BOM SARINAH pagi menjelang siang menjadikan suasana kota Jakarta begitu sedikit mencekam terutama sepanjang Jalan Protokol Tamrin dan Sudirman. Keadaan jalan yang lengang pada jam –jam menjelang makan siang tersebut mulanya tak menimbulkan kecurigaan pada petugas. Sebagian perusahaan sepanjang Jalan Tamrin dan Sudirman beberapa hanya bekerja setengah hari, namun sayangnya perusahan dimana aku bekerja tak termasuk dalam kategori perusahaan yang ikut pulang lebih awal. Bukan, bukan karena tak ingin libur hanya saja karena tuntutan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga dan tepat hari itu jatahku untuk piket lembur pantengin semua cabang biar bisa diclosing hari itu juga (Malah ceritanya melebar kemana – mana).

Sebenarnya Bukan Masalah BOM nya yang akan disoroti, akan tetapi apa yang aku alami dan beberapa kalimat yang kudapat setelah kejadian Bom Sarinah. Kala itu lemburnya tidak terlalu malam, karena dalam hati juga sebenernya agak ketakutan dengan rumor yang beredar bahwa hari itu kalo teroris yang mau ngebom lagi bertebaran di Ibukota (serem banget sebenernya mendadak takut gitu padahal mah biasa pulang malem sendiri). Perasaan yang was – was dan curigaan melulu apa aja yang dilihat rada paranoid gitu. Pemikiran  yang udah berlebihan padahal raga masih ada didalam kantor.

Jreng jreeeng jreeng………………………………………..(seharusnya gak seperti itu juga bunyinya).

Waktu pulang pun tiba dan kerjaan hari untuk hari tersebut sudah diselesaikan. Waktu menunjukkan tepat pukul 20.00 wib, pulangnya biasa barengan dengan bagian –  bagian yang lain.  Alhamdulillah malam itu rame juga barengan lembur dan pulang kantornya. Keadaan kantor dan gedung udah mulai gelap, sembari nunggu lift yang ke lantai 15.

“ Put, awas lo ntar disangka teroris dan langsung ditangkep sama polisi dan kawan – kawannya loh.” Senyum – senyum ngeledek dibarengi riuh tawa semua rekanan kerja yang lagi nunggu lift kebuka.

“ Iya lo put biasa ya ada pihak – pihak yang dicurigai yang penampilannya kayak lo begini.” Sembari memperhatikan diriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

FYI, kebiasaanku bener – bener tertutup karena selama perjalanan baik berangkat kerja atau pulang kerja saya selain pake jilbab gede ditambah pake masker juga. Alhasil, yang keliatan cuman mata doang.

“ Atuh bisa lah pak, bu itu polisi nyari teroris yang lelaki kan, menurut berita yang tersebar kesemuanya lelaki.” Balasku sebenernya mah dalam hati deg – degan yang luar bisa itu rasa yang timbul macam gado – gado udah kebanyakan campuran.

#30dayswritingchallenge #day15 #squad1 #tobecontinue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.