Hijrah Outside and Inside

Part 15

Mulai berbenah diri menyadiri banyak kekurangan selama ini sepertinya banyak keterlambatan unutk memperbaikinya. Diperlukan kerja keras untuk mengejar banyak ketertinggalan, banyak hal yang harus dipelajari kembali sehingga dapat menyusun strategi dengan benar. Jangan pantang menyerah akan cibiran banyak orang, tahukah kamu? Bahwa itu semua harusnya bisa menjadi pemicu semangat beragama. Belajar agama itu tidak bisa secara otodidak, tetapi harus secara serius dan benar-benar mendalami dengan segenap jiwa raga yang ada. Jika secara asal-asalan akan menimbulkan penafsiran yang berbeda pula. Agama bukanlah hal konyol, lucu sampai-sampai menjadi bahan untuk ditertawakan.

Wajib menyampaikan dalam beragama yang tidak boleh adalah memaksa. Saya memang dapat memilih untuk menyayangi dan mencintai siapa saja yang ada di dunia ini, tetapi tak dapat memaksa Allah untuk melakukan hal  yang serupa. Hidayah itu urusan Allah, Dia yang lebih berhak memutuskan untuk siapa saja pantas hidayah itu diberikan. Pertanyaan semakin hari semakin bertambah. “Sebenernya rada trauma gitu, kalo harus wearing hijab ?”,

“ Looh kok bisa memangnya kenapa?”

“Gimana gak trauma coba, saya kan punya ponakan orangtuanya ustadz dan sering cerah dan berdakwah kemana-mana. Tapi dakwahin anak sendiri aja gak bisa.”

“ Belum lagi dia kalo didepan orangtuanya itu looh sok alim. Jadi kalo siapa aja yang cerita ke orangtuanya pasti gak percaya. Padahal kalo gak ada orangtuanya jilbab aja langsung dilepas.”

(Pertanyaan seperti tersebut mungkin beberapa orang pernah mendengar, afwan sekali lagi bukan maksud membuka aib orang lain.)

Kemungkinan besar sikap anaknya yang seperti itu adalah cobaan bagi orangtuanya, Bukankah sudah dipaparkan dalam Al-Qur’an bahwasannya anak, pasangan hidup, keluarga, harta, jabatan akan menjadi cobaan bagi sebagian yang lain. Karena kedua orangtuanya baik namun perangai anaknya berbeda sangat jauh. Dalam ilmu sains hal semacam itu bisa terjadi karena yang muncul pada anak tersebut adalah gen resesif dari kedua orangtuanya. Pelabelan yang hanya satu pihak saja itu tak adil tanpa adanya tatapan muka. bagi sebagian yang lain potret semacam itu akan membuat islam buruk dan langsung menyalahkan agamanya. Padahal bila dicermati bukan hanya pengikutnya saja yang perlu dilihat, tetapi belajar agama islam secara utuh langsung dari sumbernya yang asli yaitu Al-Qur’an dan Hadist.

Ketika sudah berjilbab seperti ini godaan yang datang jauh lebih besar lagi dibandingkan dahulu. Bertubi – tubi bagai angin yang berhembus dengan kencangnya. Seolah tak memberi celah untuk untuk menarik nafas lega. Pada akhirnya ada yang berkata, “ Jika lelah dan tak sanggup lagi menerima segala cobaan dari Allah maka berhenti saja hidup.” Jleb banget serasa mendapat tamparan keras, disadari atau tidak pemberian cobaan dari Allah termasuk dalam salah satu bentuk rasa kepedulian Sang Khalik terhadap hambaNya.

#30dayswritingchallenge #day26 #squad1 #tobecontinue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.