Happy English

Prior

Berawal dari kegundahan yang ada dalam diri saya, begitulah dilematika seseorang yang ingin resign dari pekerjaannya. Entah apa yang ada dalam diri saya ini, namun semua terjadi begitu tiba—tiba sekali. beberapa teman sekantor sempat menyayangkan keputusan saya untuk pensiun dini dari pekerjaan ini. Bahkan  ada juga yang sampai berderai air mata karena mendapat kabar saya akan berhenti kerja. Ciee berasa penting ditangisin segala (HAHAHA, ok thank anyway kalian).

Kebersamaan yang singkat sekali menyisakah sedikit kisah, biarlah menjadi memori untuk ingatan saya. Mengenal mereka yang belum lama dan juga banyak bertanya sudah seperti polisi sedang introgasi. “Kenapa Kay, kok mendadak gini mau resign?”, tanya salah satu teman yang sering saya ajak curhat. Alice namanya, namun sebagian temannya sering memanggilnya dengan sebutan Ice. Maklum saja sebagai orang Indonesia asli sedikit rumit jika harus memanggilnya Alice. Tak pernah saya sangka bahwa Alice akan sesedih itu mengetahui hari ini adalah hari terakhir saya bekerja disini.

Air mata Ice belum berhenti berderai, saya rasakan kesedihan yang mendalam dari air matanya. Akhirnya saya pun ikut menetaskan air mata tanpa disadari. Jadilah kami berdua saling menangisi satu sama lain, setelah ini akan sulit rasa bertemu karena jarak yag cukup jauh. “Gak bisa banget ditunda sampai bulan depan Kay, berangkatnya?”, tanya Ice berusaha menghentikan tangisannya. “Maaf Ce, dadakan gini berkabarnya. Tapi pengajuan resign saya udah dari dua minggu yang lalu  ke HRD.” Jawab saya sambil menyeka air mata.

“Kanaya, Alice sedih deh kita gak bisa bareng-bareng lagi, cerita-cerita banyak lagi dan yang pasti ngebolang irit lagi berdua.” Sambung Alice sambil sesegukan.

“Kay, juga sedih Ce sedih. Coba nanti kalo ditempat baru pasti gak ada yang kayak Ice, jangan sedih lag Ce please berat ini jadinya mau pergi.” Sahut saya pada Alice dengan air mata yang terus berlinangan.

Suasana makan siang yang berubah menjadi haru dan mereka pun larut dalam kesedihan. Air matapun tak henti-hentinya bercucuran. Tak pernah terduga sebelumnya oleh Alice jika hari ini terakhir kali Kanaya bekerja di kantor ini. Tangis yang bersautan membuat mereka tak lagi merasa lapar. Aroma makanan yang tercium seantero ruanganpun tak lantas membuat mereka tergoda untuk memesan makanan. Suara keroncongan perut tak lagi diperdulikan, yang tersisa hanya kesedihan yang belum berakhir.

Hari ini benar – benar penuh drama kesedihan yang tak henti-hentinya membuat bulir-bulir air mata bercucuran. Jam makan siang telah usai saatnya kembali bekerja. Ketika semua karyawan sibuk dengan tugasnya masing – masing, saya  berpamitan pada setiap divisi dan meminta maaf pada setiap orang dikantor tersebut. Sebenarnya ini sungguh perkara yang berat untuk saya, namun mau bagaimana lagi. Suka tidak suka saya sudah memantapkan hati untuk tetap menuntut ilmu. Keputusan saya sudah bulat dan saya harus pergi ke Pare.

Akhirnya waktu menunjukan pukul 17.30 wib menandakan jam kantor telah berakhir. Lamat-lamat kutatap meja kerja saya dengan seksama. “Kali ini terakhir saya bekerja disini, selamat tinggal semua dengan segala kenangan yang terukir.” Kata saya dalam hati, tak terasa mata saya sudah berkaca-kaca dan jemariku berjalan perlahan menyentuh setiap benda yang ada dimeja kerja saya. Lambaian tangan tanpa kata-kata saya tujukan kepada semua teman-teman sekantor saya. Salah satu cara saya akan tak lagi membuncahkan kesedihan. Akhirnya kaki saya melangkah keluar gedung menuju rel kereta. Commuter line yang penuh sesak oleh warga Jabodetabek melaju seperti biasanya. Sayapun menikmati setiap akhir perjalanan pulang kerja hingga akhirnya sampai di rumah.


#30DaysWritingChallenge #Day1 #Squad4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.