Gelar Kemiskinan

Apa kabar dengan jiwa? Baik sungguh sangat baik, lalu kemanakah gerangan jiwa –jiwa yang haus akan dunia.  Mapan begitulah biasanya mereka menyebutnya dengan sederet gelimpangan harta. Standarnya, apa tolak ukurnya hanya sebatas tunggangan mewah (motor, mobil atau bahkan super jet pribadi).  Itu semua bagai SOP yang tidak tertulis, tetapi selalu menjadi perhatian yang serius.

Berlomba –lomba dalam kelelahan yang tiada berujung. Cucuran deras keringat yang berjatuhan hanya akan menyisakan penyesalan yang mendalam. Fungsi yang sudah beralih kebermanfaatannya. Berbeda pula kelak dampak yang akan ditularkan khalayak ramai. 

Harta yang sudah meraja lela, tetap saja dirasa kurang dan ingin terus bertambah. Kampus kehidupan yang tak memiliki ijazah secara tertulis ini, sungguh memiliki pelajaran yang kadang tak terlintas. Gelarnya yang menjamur pun memiliki predikatnya sendiri –sendiri. Paling menjadi perhatian ketika masyarakat berkemampuan ekonomi menengah keatas sangat ingin berebut bantuan KEMISKINAN. 

Orang-orang yang harusnya dapat menolong dan meringankan beban saudaranya yang kurang mampu. Menambah daftar panjang dan kemiskinan yang terjadi. Beban yang seharusnya setiap tahun terpangkas, malah terjadi kenaikan yang sangat signifikan. Masalah yang seharusnya sudah lama selesai, berbuntut pada problematika klasik yang tak kunjung usai.

Anehnya, mereka yang tetap bersikukuh menyatakan bahwa diri mereka orang miskin. Berbagai argumentasi pun dilontarkan seolah menyakinkan bahwa ia benar-benar patut diberi gelar kemiskinan. Tanpa rasa malu lagi dan dengan berbangga diri mereka mengaku sebagai warga yang miskin. Walaupun terpampang nyata harta benda dan tanah ladang nan luas. Masih saja suka mendebat dengan yang sangat membutuhkan.

Marilah berbesar hati dan mengakui jikalau memang harta yang ada mencukupi. Rasa syukur terhadap apa yang dimiliki. Sekedar ucapan belaka belum cukup memaknai harta yang dipunya. Pemaknaan yang lebih mendalam tercermin dari perbuatan yang dirasa. Taka ada guna mencari pembenaran kesalahan tetap saja perlu diluruskan. Tapi bukan berarti dengan kekerasan tiada henti. 

Membangun bersama bukankah akan terasa mudah dan menyenangkan. Karena sendiri hanya akan memberatkan. Bukan saatnya menjadi menonjol dan membuat yang lain terpaku dan tergugu. Menjalin kebersamaan ditengah keberagaman. Bahu membahu menolong sesama bukan untuk kepentingan seorang. Tetapi akan lebih mulia membangun peradaban maju untuk tetap menjadi keharmonisan alam dan penghuninya.

#30DWCJilid8 #Day6 #Squad4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.