Ta’aruf oh Ta[k]’aruf

Ta’aruf atau Ta[k]’aruf, tentunya akan memiliki makna yang berbeda. Ta’aruf (Arabic language) dan Ta[k]’aruf (campuran both Indonesia and Arabic languages). Sekilas, serupa tapi tak sama. Banyaknya plesetan di Bahasa Indonesia sendiri membuat satu kata memiliki makna yang bias.

Beberapa kata seperti English dan Arabic mereka punya makna yang lebih jelas dan spesifik. Ta’aruf istilah yang muncul di Indonesia dan cara yang diperkenalkan untuk mendapat pasangan hidup (suami/istri). Karena secara spesifik dibuku kitab-kitab fiqih tidak disebutkan secara jelas. (sepenggal isi kajian dari ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.)

Sejauh ini di negeri saya tercinta (Indonesia) pacaran masih sangat popular dikalangan masyarakat. Agak miris memang , belum lagi yang bikin gemes itu anak-anak yang baru ABC  jadi ABG juga belum, udah pacaran. Duh dek, sekolah yang bener aja dulu ya, kehidupan sesungguhnya sungguhlah keras dek.

Roda kehidupan yang terus berputar, dari tahun ke tahun usai manusia makin bertambah. Perkembangan dan pertumbuhan semakin terlihat; kebutuhan semakin meningkat dan beraneka ragam. Mulai dari pangan, dandang, dan lainnya. Fase sekolah hingga akhirnya lulus, kerja lalu berkeluarga (menikah).

Pada fase dimana menikah termasuk salah satu kebutuhan manusia namun waktunya berbeda. Ya kali barengan nanti yang hadir acara pernikahan siapa dong. Kasian juga penghulunya nanti bingung harus kemana dulu, lol.

Publikasi ta’aruf di Indonesia juga sudah sangat massif banget diperkenalkan. Seperti salah satu cara untuk memerangi istilah pacaran yang gak ada jundrungannya. Tapi tetep ya namanya kebaikan itu ada oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab dalam realisasinya, sehingga merusak esensi sesungguhnya dari kemurnian ta’aruf.

Oknum-oknum seperti ini kadang sekedar ganti nama saja dari pacaran jadi ta’aruf, tapi prakteknya sama aja nabrak banyak aturan syariat yang sudah ada. Dan sebisa mungkin hindari deh kata yang semacem mantra “yang Penting kan? bla bla bla……………………..”

Ta’aruf jalan yang ditempuh untuk mereka yang benar-benar serius untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Jadi jangan cuman coba-coba apalagi iseng belaka. Ini penentuan kehidupan yang akan dijalani selama sisa hidup yang dimiliki. Tentunya masing-masing orang berbeda ya kan.

Kalo mencari satu sahabat aja susahnya minta ampun, apalagi pasangan hidup ya kan, yang bakalan 4L (lu lagi lu lagi). Bisa legowo dengan semua kekurangan, keajaiban, dan keunikan yang akan dihadapi.

Galilah informasi selengkap dan sedetail mungkin, jika tidak, akan banyak keterkejutan yang WAW karena tak sesuai ekpektasi. Lah wong kalo perbankan aja, mau memutuskan kasih pinjeman apa tidak ke orang baru. Mereka ini surveynya bener-bener berkali-kali. Sebagai acuan benaran bisa gak nih memenuhi kriteria yang ditetapkan pihak bank. Lah masa buat jodoh ala kadarnya

Banyak banget memang contoh pernikahan yang tak terduga gitu.

Misalnya ada yang main film/sinetron bareng dulu alhamdulillah ternyata berjodoh.

Ada yang gak saling kenal dan belum pernah ketemu satu sama lain alhamdulillah ternyata berjodoh. Bukan sembrang pernikahan juga ini perantara juga bener-bener paham secara detail. Seperti pernikahan Putrinya Aa Gym.

Terus gimana dong kalo gak keluarga kita gak selevel keluarga Aa Gym? Ya udah bangun jangan kebanyakan berkhayal.

Ada yang satu project bareng, ternyata meraka jodoh. Seperti pernikahan Anandwitos dan Annisa Rahma yang sempet jadi sorotan banget.

Ada yang jodohnya ternyata gak jauh-jauh taunya temen sekolah dulu.

Ada yang pacarannya ama sia A eh ternyata nikahnya sama si B, jadi selama ini sekedar jagain jodoh orang. lol

Ada juga yang dari kursus bareng alhamdulillah mereka berjodoh. Ada banget ini cases begini di Pare, tapi kemungkinannya kecil banget anggaplah minoritas.

Ada juga yang dijodoh-jodohin udah tau salah satu pihak yang mau nikah gak setuju, nikah tetep tapi ternyata bukan jodoh cuman bertahan beberapa bulan akhirnya terpisah.

Cuplikan kisah-kisah rumah tangga dari mereka yang sudah menikah, berbeda jalan namun tetap satu tujuan untuk bahagaia ketika bersama.

Apakah setiap orang akan sama dalam perjalanan menuju pernikahannya, tentu tidak. Tergantung dengan T and C apply masing-masing individu. Karena pernikahan akan dijalanin oleh dua insan (laki dan perempuan) dan yang lain hanya jadi penonton.

Berhentilah jomblo untuk menjadi Jones karena jika  bahagai hanya berdasarkan harta, tahta dan dia. Repot amat mau bahagaia aja syaratnya banyak banget macem mau daftar CPNS aja coba.

Buat yang lagi pada ta’aruf juga jangan kepedean sekali dateng langsung OK. Porsinya sama baik laki-laki atau perempuan untuk nego hingga akhirnya sama-sama deal dan memutuskan untuk lanjut menikah atau sudahi saja.

Perempuan boleh nolak? Boleh, terus laki-laki juga boleh nolak? Iya sama bolehnya. Karena harus dipastikan semuanya to be D-E-T-A-I-L dengan kreteria masing-masing.

Apakah ini perlombaan?

Apakah ini ajang gengsi-gensian?

Apakah ini untuk baper tak berkesudahan? BUKAN ini Pernikahan dan setiap pelaku pernikahan adalah pemenang dalam rumah tangga masing-masing. Karena kalo masalahnya dituker belum tentu sanggup. Bukan juga untuk saling membandingkan tapi saling menerima dan memaklumi.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.